Tidak Bisa Asal Priksa Nasabah

PROKAL.CO, SAMARINDA – Aturan yang akan membuat Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan untuk bisa memeriksa data perpajakan rekening bank milik nasabah diyakini bakal menjadi hal yang dilematis. Meski pada tahap awal baru diberlakukan untuk nasabah asing, namun pengusaha mewanti-wanti agar pemerintah tetap menjaga kerahasiaan nasabah bank.

Diketahui, pemberlakuan tersebut berkaitan dengan ratifikasi pertukaran informasi perpajakan yang berlaku global. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) tersebut belum disahkan. Namun ke depannya Ditjen Pajak punya andil penuh untuk mengakses data nasabah untuk mengetahui keuangan.

Wakil Ketua Umum Bidang Perbankan dan Finansial Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Budiawan mengatakan, hal tersebut tidak mudah diberlakukan. Seperti dulunya saat pemerintah merevisi UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan menjadi UU 10/1998, sehingga data out standing kredit dan kredit macet bukan lagi rahasia. Lantas hanya aktiva atau tabungan yang menjadi rahasia. “Jadi, jangan perbankan sembarangan kasih data,” imbuh lelaki yang akrab disapa Budi tersebut, kemarin.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kadin Kaltim Alexander Sumarno menilai, baik atau tidaknya kebijakan tersebut tergantung aplikasinya di lapangan. Namun hal yang pasti, akan ada kesulitan nantinya, sebab faktur pajak yang telah diberikan meski belum terbayar, uangnya akan dianggap sudah masuk.

“Padahal belum tentu ada (uang dari faktur pajak). Jadi, bagi pengusaha, kalau untuk mengetahui saja (data nasabah bank) tidak apa-apa. Tapi kalau diperiksa-periksa, dan selebihnya, itu yang tidak disenangi, karena belum tentu semua sudah clear,” ulas lelaki yang akrab disapa Alex ini, kemarin.

Diterangkannya lebih lanjut, pada tiap aset yang dilaporkan ke badan perpajakan, belum tentu semuanya terhitung harta produktif. Ada banyak komponen dalam suatu aset. Contohnya perumahan, pada tanah yang dijual oleh developer,sebagian merupakan benda mati. Seperti parit, atau sejenisnya, tidak bisa produktif. Jadi dari harga  seumpama 400, lalu dihitung 600, karena 200 adalah dari bagian yang tak produktif.  “Jadi, untuk melihat data nasabah itu tak mungkin bisa sembarangan,” ungkap Alex, bahwa dalam melihat data nasabah di bank penting ada validasi dan koordinasi lebih lanjut, dan diperjelas kepentingannya.

Sumber : http://www.pemeriksaanpajak.com

www.pajakpribadi.com

Iklan


Kategori:artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: