KATA MEREKA: Data Nasabah ‘Ditelanjangi’, Bisa Tempeleng Pengemplang Pajak

a0538-tax2bamnesti

JAKARTA – Program amnesti pajak atau tax amnesty akan berakhir pada 31 Maret 2017. Berdasarkan data hingga 13 Februari 2017, program amnesti pajak telah diikuti lebih dari 650 ribu wajib pajak dan mengumpulkan lebih dari Rp111 triliun uang tebusan.

Namun Pemerintah melalui Ditjen Pajak akan terus lakukan optimalisasi hingga berakhirnya program pada Maret nanti. Salah satunya dengan mempermudah akses terhadap data nasabah dengan sistem online perbankan dengan Aplikasi Usulan Buka Rahasia Bank (Akasia).

Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi mengatakan, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu permohonan akses data nasabah adalah 239 hari. Namun, dengan hadirnya aplikasi Akasia, maka akan mempercepat pengajuan usulan kepada Menteri Keuangan.

“Tapi sekarang sudah ada aplikasi yang namanya Akasia nanti link sama OJK. Dan pembukaan rekening kalau dulu enam bulan, sekarang seminggu sudah bisa buka. Cuma mekanismenya harus izin , tapi sekarang pakai aplikasi sehingga lebih cepat,” ujar dia kepada media di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.

Selain itu, dia mengatakan OJK juga akan meluncurkan aplikasi online, yaitu Aplikasi Buka Rahasia Bank (Akrab). Aplikasi ini juga ditujukan untuk mempercepat proses pemberian izin atas surat permintaan Menteri Keuangan.
Dengan hadirnya Akasia dan Akrab Ditjen pajak akan mudah mengakses data nasabah wajib pajak. Sehingga tidak ada celah wajib untuk lakukan manipulasi data.

Lalu bagaimana masyarakat menilai kebijakan Ditjen Pajak tersebut? Apakah masyarakat menilai langkah Ditjen Pajak adalah sebuah pelanggaran privasi? Berikut Kata Mereka

  1. Rosyid Ibnu (23) Karyawan BUMN
    Saya mengetahui bahwa ada pihak yang dapat mengakses rekening bank saya, karena semua data setiap transaksi nasabah tercatat di sistem bank. Meskipun dapat diakses, menurut saya apabila Ditjen Pajak melakukan akses ke data nasabah itu adalah sebuah pelanggaran privasi. Saya khawatir nantinya data ini akan digunakan untuk kepentingan yang bersifat pribadi. Menurut saya hendaknya Pemerintah cukup memanfaatkan pelaporan wajib pajak secara optimal. Pendapatan yang dilaporkan dijadikan dasar perhitungan pajak wajib yang harus dibayarkan. Data ini juga harus di-update secara berkala.
  2. Phulia (24) Pengusaha
    Saya mengetahui bahwa data rekening saya dapat diakses oleh Bank. Untuk keperluan tax amnesty yang merupakan kewajiban masyarakat bagi Negara, saya rasa sah – sah saja apabila Ditjen Pajak membuka data rekening nasabah. Namun demikian saya tetap khawatir apabila ada akses terhadap data rekening saya.
    Pemerintah hendaknya bersikap transparan dalam melakukan akses terhadap data nasabah. Baiknya nasabah yang bersangkutan diinformasikan sebelumnya. Serta perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat. Apabila masyarakat tidak punya pemahaman secara mendalam terhadap hal ini ditakutkan akan jadi sasaran oknum yang tidak bertanggung jawab.
  3. Richard Joe Nicholas (27) Freelance
    Saya mengetahui bahwa data nasabah dapat diakses oleh pihak yang berkepentingan. Apabila Ditjen Pajak akan mengakses data nasabah untuk kepentingan tax amnesty itu bukan sebuah bentuk pelanggaran privasi, karena untuk kepentingan perpajakan yang juga kepentingan negara. Saya tidak mengkhawatirkan hal tersebut.
    Meskipun demikian Pemerintah juga harus merahasiakan data nasabah tersebut. Jangan sampai disalahgunakan pihak tertentu. Dengan dibukanya data nasabah ini juga bermanfaat untuk menempeleng pengemplang pajak.
  4. Putri Virga (26) Karyawan Swasta
    Saya pernah mendengar kalau ada pihak yang dapat mengakses data nasabah, tapi saya tidak tahu siapa saja yang dapat mengakses. Data nasabah ini nanti kaitannya dengan besaran tax amnesty. Ada beberapa wajib pajak yang tidak melaporkan kekayaan secara terbuka atau sengaja mengurangi nilai kekayaannya agar nilai pajak yang harus dibayarkan lebih kecil. Saya rasa Ditjen Pajak perlu akses untuk membuka data nasabah tersebut, bahkan data nasabah yang berada di bank luar negeri. Saya juga tidak mengkhawatirkan apabila ada pembukaan rekening nasabah. Asal dengan pemberitahuan sebelumnya. Saran saya bagi Pemerintah, hendaknya mengawasi dengan seksama proses ini, agar tidak disalahgunakan.
  5. Fromelia (23) Akuntan Publik
    Ketika kita melakukan transaksi perbankan, pasti akan ada input data ke dalam sistem komputer yang ada di bank. Gunanya untuk melacak segala aktifitas yang dilakukan nasabah, termasuk apabila ada aktifitas mencurigakan dalam jumlah yang tidak realistis. Data nasabah tentunya juga harus dimanfaatkan untuk kepentingan tax amnesty, sehingga tidak ada wajib pajak yang memanipulasi kekayaannya yang harus diberi beban pajak. Namun saya tetap merasa khawatir dengan adanya pembukaan data nasabah. Tapi saya yakin Pemerintah punya langkah antisipatif untuk pembukaan data nasabah ini. Artinya tidak sembarang orang bisa melihat data nasabah serta melalui izin dari pihak bank dan pihak nasabah sendiri.

Sumber: http://www.pemeriksaanpajak.com

WWW.PAJAKPRIBADI.COM

Iklan


Kategori:Berita

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: